Panitia Medis Jamtek 2013

Kehangatan dalam kebersamaan, saling melengkapi, saling berbagi, berpadu demi suksesnya sebuah misi ^^

Gambar  —  Posted: Desember 15, 2013 in Pengalaman Hidup


Social Project oleh tim AAI FTI UII

Gambar  —  Posted: Januari 8, 2013 in Pengalaman Hidup

Tentang Shalat

Posted: Januari 8, 2013 in Islami

Tentang Shalat

Shalat adalah bukti penghambaan seorang mahluk kepada rabbnya. Shalat merupakan sarana komunikasi hamba dengan sang penciptanya. Shalat juga merupakan bentuk ketaqwaan manusia kepada tuhan sang maha agung.

Berbicara tentang definisi shalat sangat banyak kita temukan macam ragamnya, namun inti dari pada shalat sendiri adalah menghadap kepada sang pencipta manusia. Shalat secara terminologi dapat diartikan sebagai doa, sedang menurut bahasa, shalat adalah ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Begitulah pengertian shalat yang sering kita dengar.

Dalam Alqur’an dan Assunah banyak dalil-dalil yang menjelaskan secara gamblang mengenai  perintah shalat kewajibanya bagi manusia. Seperti dalam surat Al-ankabut ayat 45, “Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaanya dari ibadah-ibadah yang lain)” dan juga surat Albaqarah ayat ayat 43, “Dirikanlah shalat dan zakat dan rukuklah bersama dengan orang-orang yang rukuk”.

Assholatu ‘ala waqtiha (shalatlah pada waktunya (yang telah ditentukan) ).

Islam dibangun atas lima dasar yaitu : syahadat, shalat, zakat, haji, puasa.

  1. Orang yang diwajibkan melaksanakan shalat

ü Islam

ü Berakal

ü Baligh

ü Wanita yang suci dari haid dan nifas

 

  1. Syarat sah shalat

ü Suci dari hadats kecil dan hadats besar

ü Suci badan, pakaian, dan tempat dari najis

ü Menutup aurat

ü Menghadap kiblat

ü Masuk pada waktunya

 

  1. Rukun shalat
    1. Niat
    2. Berdiri bagi yang mampu
    3. Takbiratul ikhram
    4. Membaca Alfatihah
    5. Rukuk
    6. I’tidal
    7. Sujud
    8. Duduk diantara dua sujud
    9. Duduk tasyahud akhir

10. Membaca tasyahud akhir

11. Membaca shalawat nabi

12. Salam yang pertama

13. Tertib

 

 

  1. Sunah-sunah dalam shalat
    1. Sunah hai’at
  • Ø Mengangkat kedua tangan sejajar dengan telinga dengan posisi tangan terbuka       (tidak terkepal) pada saat takbir dan i’tidal
  • Ø Membaca doa iftitah
  • Ø Mendahulukan tangan kanan pada saat meletakkan tangan kedada
  • Ø Membaca ta’awudz
  • Ø Mengucapkan  “amien”  setelah imam membaca alfatihah
  • Ø Membaca tasbih lebih dari satu kali pada rukuk dan sujud
  • Ø Membaca “rabbana lakal hamdu…” pada saat i’tidal
  • Ø Membaca “rabbighfirli war hamni…” pada saat duduk diantara dua sujud
  • Ø Mengeraskan suara saat shalat maghrib, isyak, dan subuh pada dua rakaat pertama
    • Ø Berjauhan antara lengan atas dengan kedua siku, antara perut dengan kedua paha, dan antara kedua paha dengan kedua betis pada saat sujud
    • Ø Mengangkat kedua siku dari lantai ketika sujud
    • Ø Duduk iftirasy pada tasyahud awal dan diantara dua sujud
    • Ø Duduk tawaruk pada tasyahud akhir
    • Ø Mengacungkan telunjuk pada tasyahud awal dan akhir
    • Ø Membaca salam kedua

 

  1. Sunah ‘ab’ad
  • Ø Membaca doa qunut pada shalat subuh, witir (pada pertengahan bulan ramadhan hingga akhir bulan ramadhan.
    • Ø Membaca tasyahud awal
    • Ø Membaca shalawat pada tasyahud awal

 

  1. Hal yang membatalkan shalat

v Sengaja berbicara

v Bergerak yang bukan gerakan shalat berturu-turut sebanyak 3x

v Berhadats kecil dan besar

v Terkena najis

v Terbukanya aurat dengan sengaja

v Berubah niat

v Tidak menghadap kiblat

v Makan atau minum meskipun sedikit

v Tertawa

v Keluarnya sesuatu dari dua jalur (qubul dan dubur)

v Murtad

v Meninggalkan rukun shalat dengan sengaja

v Mendahului iman sebanyak dua rukun

v Hilang akal (tidur) pada saat shalat

Aku Menunggu

Posted: Januari 8, 2013 in Puisi

Kau..

Dalam benakku,

Tak seperti dulu!

Tenggelam susah sudah

Cinta yang pernah kau bagi

Denganku..

Saat senyum manis itu untukku

Kau berlari, akupun begitu

Kau tertawa, aku bahagia

Kau menangis, aku merasakannya

Pahit..,

Manis..,

Kita serasa

 

Kini,

Aku diambang masa depanku

Lama kunanti sudah, saat itu

Sepucuk doamu

 Dalam pergantian hidupku..

 

Kau jauh disana

Tak tau sedang apa

Apakah kau tau?

aku sangat merindukanmu..

aku menunggumu..

“SAHABAT”

 

 


Image

Senyum adalah pemberian yang luar biasa dari sang maha pencipta kepada mahluknya. Dengan senyum, kita merasa bahagia, terlepas dari semua masalah yang membelenggu. Maka beruntunglah kita semua karena masih diberi nikmat untuk tersenyum. Tiada yang bisa menggantikan segala sesuatu yang berharga selain kebahagiaan dalam diri kita. Tiada yang lebih kaya dari apa yang kita miliki selain bahagia jiwa . Tiada perbuatan yang lebih berharga dalam hidup kita selain membuat orang yang kita cintai merasa bahagia dalam hidupnya. Karena kebahgiaan mereka, kita pun dapat ikut merasakanya.

Berbagi, bukan semerta-merta kita memberi, tapi untuk saling mengerti, memahami satu dengan yang lain. Bukan pemberian kita yang besar, namun niat kita untuk berbagi kebahagiaan itulah yang tinggi, karena tiada kebahagiaan yang terlintas tanpa adanya niat yang ikhlas. Disini, dalam kehidupan ini, memberi dan memahani adalah jalan meuju kebahagiaan kita sendiri.

Sampingan  —  Posted: Desember 22, 2012 in In the moment

malam yang menegangkan

Posted: Desember 22, 2012 in Cerpen

Malam itu sangat menegangkan, semua orang nampak  serius  dengan wajah berapi-api dan tatapan mata yang tajam. Dibalik sederetan  lemari yang berdiri kokoh mengelilingi mereka, didalam kamar disebuah pesantren yang letaknya dilantai dua dan paling utara dari kamar-kamar lain.  Kamar yang biasanya sunyi itu mendadak rame dengan sekerumunan orang. Nampak dari luar kaca wajah-wajah yang sedang asik menyaksikan. Suara bisik-bisik mereka terdengar jelas dari dalam. Kemudian kang rofi  membuka pintu  keluar. Dengan mimik wajah yang memerah, namun masih dapat dia kendalikan. “kang-kang sekalian..bisa tidak kalian tidak berada disini! Kami didalam sedang membahas masalah serius, jadi tolong biarkan kami yang menangani masalah ini”, ucap kang rofi. Semua orang bergegas lari menuju kebawah. Mereka semua tak berani membantah karena kang rofi adalah pengurus keamanan yang sangat ditakuti para santri. Suasana semakin bertambah panas. Hanya Farid, sahal, dan mahbub yang nampak berbeda. Posisinya berada ditengah dari semua orang yang berada dikamar itu.  Wajahnya pucat dan sekujur tubuhnya kaku, kulitnya yang masih muda nampak mengkerut bak orang yang kedinginan,namun  keringatnya mengucur deras. Mereka bertiga hanya bisa menundukkan kepala tanpa sedikitpun berani melihat orang-orang disekelilingnya. Kang rofi yang ikut berkumpul kembali menyuruh mereka bertiga untuk berbicara. “Ayo..bicara!, desak kang romli kepada tiga orang tersebut. Ditunggunya sampai beberapa menit kemudian. Farid tetap diam, sahal dan mahbub mengatakan sesuatu namun dengan nada yang tidak jelas. Rudi yang sudah tidak sabar emosinya memuncak. Tanganya sudah sedari tadi mengepal, tanda akan melakukan sesuatu. Kemudian dia berdiri, Brakkk…sahutnya menggebrak meja sembari jari tanganya menunjuk-nunjuk kepada mereka. “Siapa diantara kalian yang menjadi pelakunya!, jawab!. “Rudi, Diam kamu!, duduk!. Saya, kang rofi, dan kang romli sedang berusaha menyelesaikan masalah ini. Kamu tidak bisa menuduh sembarangan  tanpa adanya bukti yang jelas dan juga pengakuan dari mereka”, Sahut kang hilmi selaku penengah dan juga kepala pesantren. “Tapi kang!, salim sudah melihatnya sendiri bahwa pelakunya adalah salah satu diantara mereka bertiga”, sahut rudi kepada kang hilmi. “Sabar rudi!,  Kalau begini caranya kamu tidak akan pernah bisa menyelesaikanya. Saya memang melihatnya waktu itu, tapi kita tidak bisa langsung menuduhkannya kepada farid, sahal, ataupun  Mahmud,  karena malam itu sedang ada pemadaman listrik dari pesantren”,Ucap salim sembari menenangkan rudi. Akhirnya rudi bisa sedikit  tenang dan menyimpan emosinya. Sesekali dia mengucap istighfar untuk bisa menenangkan dirinya.

Salim seketika itu diam. Pandangannya kabur keberbagai kearah. Pancaran bola matanya menggambarkan keadaan yang pernah dia alami. Dia teringat akan saat pemadaman listrik itu terjadi. Dilihatnya tiga orang yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar. Dua orang keluar sambil berlari dan seorang lagi dengan ekspresi yang tenang namun selalu memperhatikan sekelilingnya. Ketika dia mencoba melihatnya lebih dekat, ketiga orang tersebut sudah menghilang dari pandangannya. Kemudian dia mencoba masuk kedalam kamar. Dalam keadaan gelap, tak dilihatnya seorangpun berada dikamar setelah mereka bertiga. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamar, namun dia masih bingung dengan tiga orang yang dilihatnya tadi. “Astaghfirullah..tunjukkanlah hambamu ini jalan kebenaran ya Allah”, gumam salim dalam hati ketika sadar dari lamunannya.

“Farid, sahal, dan mahbub, coba kalian berbicara yang sebenarnya”, Tanya kang hilmi kepada mereka bertiga. “Begini kang, saya akan menceritakan yang sebenarnya”, sahut sahal menjawab pertanyaan kang hilmi. “Sebelum listrik pesantren padam, saya dan mahbub memang berada dikamarnya rudi. Kami sedang tidur-tiduran saat itu dan ketika listriknya padam kami bergegas keluar dari kamar karena kami sedang asik membicarakan agenda liburan nanti. Akhirnya saya dan mahbub mencari tempat lain yang agak terang untuk melanjutkan pembicaraan. “Benar itu kang, bahkan kami tak tahu apa-apa soal masalahnya sebelum kami dipanggil ketempat ini”, ucap mahbub membenarkan penjelasan sahal. “Lalu mengapa kamu dari tadi gugup dan malah takut untuk menceritakannya?, Tanya kang rofi kepada mereka berdua. “Saya takut kang kalau saya bicara nanti akan terjadi apa-apa sama saya dan juga sahal, kemudian salim juga bilang bahwa pelakunya adalah salah satu diantara kami bertiga, maka dari itu saya hanya bisa diam saja kang. “Tapi mengapa kalian lari?, jika memang begitu pastilah ada hal yang kalian sembunyikan”, Sahut imron balik bertanya dengan nada agak tinggi. Sudah sejak lama aku mengenalmu saat pertama kali mondok disini dan telah banyak waktu yang kita lalui bersama dipesantren ini. Aku ini temenmu hal!, aku tahu semuanya tentangmu. Betapapun kita selalu akrab selama ini, tapi tolong jangan kamu bohongi dirimu sendiri dan kita semua disini. Imron menatapnya dengan wajah kecewa. Seketika sahal terdiam dan menundukkan kepalanya. “dan kamu mahbub, sudah sepantasnya kamu bertanggung jawab atas kejadian ini karena kamu termasuk yang paling tua dikomplek ini, tapi mengapa malah kamu yang menjadi tersangka?. Bagaimana sikap dan pergaulanmu selama ini terhadap mereka yang lebih muda terhadapmu. Apa yang kamu ajarkan sama mereka?. Tentunya kamu yang lebih tahu tentang dirimu sendiri, tapi aku meragukanmu karena banyak diantara mereka yang tidak memiliki kepercayaan penuh kepadamu. Apa yang kamu akan katakan? Biasanya aku melihatmu keluar malam dengan gerombolanmu yang mereka lebih muda darimu. Terkadang saat berjamaah, kamu malah asik ngrumpi didepan kamar dengan mereka. Coba kamu jelaskan tentang semua ini!. “Iya mron..aku mengaku salah atas semua itu”, jawab mahbub. Aku sadar sikapku selama ini kurang begitu baik dan tidak bisa menjadi contoh bagi warga komplek, tapi satu yang saya selalu pegang selama ini. Saya tidak pernah sedikitpun mengambil hak orang lain. Kemudian apa yang saya katakan bersama sahal itu benar. Kami tidak tahu menahu atas kejadian saat pemadaman listrik, jawab mahbub. Kini semua pandangan tertuju pada satu orang. “farid, coba kamu jelaskan apa yang kamu lakukan saat pemadaman listrik”, tanya kang imron. Sa..saya juga tidak tahu apa-apa sebelumnya kang. Waktu itu saya sendirian dibagian kamar diantara sederetan lemari. Saya juga lihat sahal dan mahbub sedang asik membicarakan sesuatu dibagian kamar sebelah luar”, jawab farid. “Terus apa yang kamu lakukan?, balik Tanya kang rofi kepada farid. Saya sedang mencari buku saya yang kemarin dipinjam rudi kang. “apakah benar kamu meminjam bukunya fari rudi?, Tanya kang rofi. “iya kang, tapi sampai sekarang bukunya masih saya bawa”, jawab rudi. “saya waktu itu memang belum sampai menemukan bukumu rud, saat saya sedang mencarinya tiba-tiba listriknya padam dan akhirnya saya memutuskan untuk keluar kamar”, sahut rudi mencoba menjelaskan. Keadaan menjadi membingungkan setelah mereka bertiga berbicara menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Semuanya terdiam. Kang rofi, kang imron, dan kang hilmi saling berbisik. Mereka bertiga berdiskusi kecil. Suasana menjadi sepi namun penuh ketegangan. Setelah beberapa menit kemudian sidang dilanjutkan.”berdasarkan keterangan dari kalian bertiga, Farid, sahal, dan mahbub. Kami belum dapat memastikan siapa yang menjadi pelaku, oleh karena itu kami akan melakukan langkah kedua”, ucap kang hilmi. “langkah kedua bagaimana kang?, Tanya salim. “semoga diantara kalian tidak ada yang menjadi pelakunya, itu harapan saya, dan juga bagi kalian semua, saya berharap pada kalian, apabila ada yang mengetahui masalah ini, tolong jujurlah pada kami”, ucap kang rofi kepada semua santri yang ikut berkumpul. Karena tidak ada lagi kesaksian, akhirnya diambil langkah kedua yaitu meminum air yang sebelumnya telah dibacakan doa oleh pak yai. Air ini memang sudah dari dahulu digunakan oleh banyak santri sebagai air berkah. Kang rofi, kang romli, dan kang hilmi mengawali meneguk air tersebut dan kemudian diikuti oleh semua santri secara bergiliran. “ayo mahbub, diminum airnya”, ucap kang rofi. Kemudian mahbub pun meminumnya. “silahkan diminum hal”, ucap kang hilmi. “iya kang”, sahut sahal sembari menganggukkan kepalanya. “sekarang giliranmu farid”, tutur kang romli. Fari terdiam seketika itu. Pandanganya tertunduk kebawah. Farid terlihat gugup karena semua pandangan terarah kepadanya, ia semakin gemetaran ketika ingin meminum air dari pak yai. Tanpa diduga gelas itu pecah kelantai,  dia terjatuh pingsan sebelum sempat meminumnya. Semua santri segera mengerubungi dan mengangkatnya.

Catatan kecil abdillah

Posted: Desember 4, 2012 in Cerpen

Pagi itu abdillah bergegas kekamar setelah dia mengaji kitab al qur’an dengan ustadznya dimasjid. Dibukanya pintu lemari dan dia berada dibelakang pintu itu sehingga tidak ada yang tahu apa yang dilakukanya. Didepan lemarinya yang terletak disudut kamar dan hanya memiliki sekat lima puluh senti meter dari lemari teman-temanya, abdillah terlihat asyik menghafalkan bait-bait dari kitab alfiyah ibnu malik. Dia memang biasanya suka belajar seperti itu. Abdillah mempunyai keinginan yang sangat besar untuk menghafal dan mengikuti khataman kitab yang menjadi penutup dan tanda bagi santri yang telah menempuh kelas akhir dimadrasah diniyyah. Abdillah ingin sekali menjadi penghafal terbaik dikelasnya pada saat khataman nanti seperti apa yang diperoleh ditahun sebelumnya. Wajahnya serius sembari pandanganya menatap langit-langit kamar. Sesekali dia mengeluarkan suaranya pelan-pelan untuk memudahkanya dalam menghafal, “Qola muhammadun huwabnu maliki…a..ahmadullahi rabbi khaira maliki, mushallian ‘alannabiyyil Mustafa..”
Abdillah adalah pribadi yang murah senyum. Pribadi yang selalu patuh dan taat pada perintah-perintah sang kyai. Saking taatnya, dia hampir tidak pernah meninggalkan jama’ah bersama kiyainya. Abdillah sudah enam tahun menimba ilmu dipesantren dan sebentar lagi dia akan menamatkan pendidikanya dipesantren dan juga disekolah formal. Disekolah abdillah dikenal sebagai orang yang religius, begitulah pandangan teman-temanya terhadap abdillah. Namun, prestasinya dibidang eksak juga tidak mengecewakan. Abdillah adalah murid yang disiplin terhadap peraturan sekolah. Dari semua peraturan pesantren, ada satu yang ia langgar yaitu membawa hand phone. Dipesantren memang peraturanya sudah seperti itu, para santri dilarang untuk membawa alat komunikasi terlebih hand phone, dan jika ketahuan oleh pengurus akan mendapatkan ta’zir (hukuman) yang berat.
Malam harinya abdillah tampak sibuk mempelajari buku-buku pelajaran sekolah. Menjelang seminggu sebelum ujian madrasah diniyah dipesantren dan ujian nasional disekolah. Abdillah nampak serius dengan mimik wajahnya yang kaku. Kebetulan malam itu dikamarnya sedang ramai. Dari enam belas orang dikamar itu hanya abdillah yang sedang belajar sedang teman-temanya asyik bersenda gurau. “Abdillah ayo ikut gabung bersama kami”, ajak salah satu temanya. Abdillah membalas dengan senyuman dan hanya menganggukkan kepalanya. Diambilnya sebuah bantal untuk berbaring sejenak sambil mendengarkan music dari hand phone yang ia bawa dari rumah. Abdillah hanya bermaksud untuk beristirahat sejenak. Namun ia terlelap tidur hingga suara adzan subuh berkumandang. Ketika bangun dia mencari hand phone nya dengan ekspresi kebingungan karena setiap subuh pasti ada pengurus yang masuk kamar untuk mengajak para santri berjamaah di masjid. Abdillah tidak habis pikir kemana phone-nya berada dan tidak terlalu menghiraukanya. Mungkin dibawa temanya, “ pikir si abdillah”. Setelah selesai shalat subuh dan melakukan aktifitasnya mengaji alqur’an dia langsung bergegas duduk didepan lemarinya sambil menghafal kitab alfiah. “Mushallian ala nabiyyil Mustafa, waalihil mustakmilina syarofa…”, gumam abdillah dalam hafalannya . Tiba-tiba temanya menghampiri si abdillah. “Abdillah…ini hand phone mu. “ ucap afaf. “Kamu yang menyimpan hand phone ku pas waktu aku tidur tadi ya?, tanya abdillah. “tidak kang, bukan saya yang menyimpannya”, afaf menceritakan kejadian waktu subuh tadi kepada abdillah. Abdillah terkeluk bingung. “kemudian kenapa hand phone nya bisa ada ditanganmu?, tanya abdillah yang masih bingung. “Begini kang, tadi subuh hand phone ku juga diambil sama kang farid dan kemudian aku minta tolong sama kang pengurus yang lain untuk mengambilkan hand phone nya. Tapi maaf kang, aku tidak bisa mengatakan siapa yang telah mengambilkan hand phone nya”, tambah afaf. Abdillah hanya bisa diam dan tersenyum kecil. “ya sudahlah. Tidak usah terlalu dipikirin” ucap abdillah.
Setelah dua minggu berlalu, akhirnya abdillah selesai mengikuti ujian madrasah diniyyah dan ujian nasional selama seminggu lamanya. Nampak kebahagiaan didalam raut wajahnya. Ditambah tiga hari lagi dia akan mengikuti acara khataman kitab dan muwada’ah dipesantren.
Suatu sore abdillah bersama teman-temanya bergegas menuju majlis ta’lim untuk mengikuti latihan khataman. Abdillah sudah tidak sabar ingin berlatih menghafal bersama. Namun, ketika dia melihat daftar peserta yang diikutkan khataman, seketika dia kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Saat itu kang farid datang dan abdillah lansung menghampirinya. “Kang, dari daftar pengumuman ini, kenapa nama saya tidak tercantum?, tanya abdillah dengan wajah penuh teka-teki. “Saya belum yakin kalau kamu bisa mengikuti khataman ini”, jawab kang farid. “Kenapa kang? Ada yang salah dengan diri saya?. tambah abdillah. Seketika itu dia baru tahu bahwa yang mengambil hand phone nya kemarin adalah ustadznya sendiri. “Disini yang saya ikutkan memang dari anak jurusan ilmu keagamaan, karena memang mereka sudah lama mengkaji kitab alfiah dan saya rasa kamu tidak akan mampu menghafal bait dengan ketentuan yang saya berikan dalam waktu tiga hari terakhir”, terang sang ustadz didepan para santrinya. “Saya mampu kang”, jawab abdillah dengan tegas dan penuh keyakinan. “Beri saya kesempatan sampai hari sebelum khataman kang, insya Allah saya akan menyelesaikan hafalanya sesuai dengan ketentuan”, lanjut abdillah mencoba meyakinkan kang farid. Sejenak kang farid terdiam sembari mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh abdillah. “Kalau begitu kamu harus menyelesaikan hafalan sebelum khataman, jika kamu tidak mampu maka saya persilahkan untuk keluar atau jika memang kamu ingin menyerah sekarang itu lebih baik”, jawab kang farid dengan nada tinggi tapi dan tegas. “Terima kasih kang..saya akan buktikan”, sahut abdillah dengan keyakinanya untuk bisa mengikuti khataman yang selama ini ia impikan.
Abdillah duduk termenung didepan lemarinya. Wajahnya tertekuk. Kepalanya tertunduk dengan tangan kananya memegang dahi. Dia terhenti sejenak kemudian menutup lemarinya. Tiba-tiba abdillah berlari dengan tergesa-gesa. Sesampainya dimasjid, langkahnya terhenti seketika. Dia melihat teman-temanya yang sedang khusyuk mengikuti latihan khataman. Didepan teman-temanya yang menghadap terbalik dengan para peserta khataman, kang farid sedang mengawasi dan memberikan bimbingan. Kemudian abdillah mendatanginya. Dengan langkah yang pelan tapi penuh keyakinan, abdillah duduk disebelah kanan kang farid. “Kang, saya ingin menepati janji saya, masihkah ada kesempatan untuk saya menunjukkan hafalan yang selama ini telah saya usahakan dengan segala pikiran dan kemampuan saya?, Tanya abdillah. Ustadznya hanya diam. Tangan abdillah mulai bergetar seakan-akan tidak sabar lagi, dia bertaruh bak antara hidup dan mati. “Ehm..baik abdillah kamu boleh mencobanya”, terang kang farid kepada abdillah. Saat itu para peserta khataman menghentikan latihanya. Semua mata tertuju pada dua orang didepan mereka terutama abdillah. “Ayo abdillah..saya yakin kamu pasti mampu menghafalnya”, ucap salah seorang temanya memberi semangat. Dengan keyakinanya, abdillah memejamkan mata sembari mengokohkan mentalnya. Dengan penuh keberanian akhirnya abdillah memulai hafalanya. Kemudian abdillah membuka matanya dan menghentikan hafalanya. Dilihatnya sang ustadz yang tersenyum kepadanya yang kemudian diwarnai sorak ramai dari teman-temanya. Abdillah seketika melakukan sujud syukur. Nampak senyum kebahagiaaan dari wajahnya. Matanya berkunang-kunang ingin meneteskan air mata tapi masih dapat dia tahan. Serentak teman-temanya menghampirinya dan mengucapakn selamat atas keberhasilan abdillah menghafal alfiah. Meskipun keseharianya disekolah umum adalah berbasis eksak, abdillah mampu membuktikan kepada teman-temanya yang mengenyam pendidikan agama. Dia telah merubah keinginginanya menjadi sebuah kenyataan yang sangat mulia.
Minggu demi minggu telah dia lalui dipesantren dan sekolah sampai akhirnya abdillah dinyatakan lulus dari madrasah diniyyah dan sekolah formalnya. Abdillah menikmati masa-masa terakhirnya itu dengan penuh kebahagiaan bersama teman-temanya yang juga kelas akhir. Dengan berakhirnya sekolah dijenjang menengah atas, abdillah berkeinginan melanjutkan pendidikanya diperguruan tinggi. Setiap harinya abdillah mencari informasi perguruan tinggi diseluruh PTS ataupun PTN yang ada, dengan harapan dan keinginan yang besar. Dia mencoba mendaftar di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta setelah sebelumnya banyak perguruan tinggi negeri yang dia masuki.
Pagi itu adalah pengambilan hasil ujian madrasah dininyah dan sekolah. Abdillah bermaksud sowan dan boyong pada hari itu juga. Sungguh momen yang sangat dinanti-nantikan oleh abdillah, Namun semua itu juga meninggalkan berjuta kerinduan karena selama enam tahun abdillah menimba ilmu dipesantren tersebut. Abdillah beranjak pergi kesekolah terlebih dahulu karena ijazahnya akan dibagikan pada pagi itu juga, sementara ijazah pesantren akan diambil pada siang harinya. “Alhamdulillah…, ucap abdillah dengan penuh rasa syukur sambil tanganya membawa selebaran kertas ijazah yang disitu juga tertulis nilai hasil belajarnya selama ini. Nilainya pun sangat baik karena hanya nilai 7.00 yang terjelek dari semua mata pelajaran. Setelah dia mengambil ijazah disekolah, dengan wajah gembira abdillah kembali kepesantren sambil menampakkan mimik wajahnya yang penuh senyuman. Setibanya dipesantren, abdillah masuk kekantor untuk bertemu dengan ustadznya. Maksudnya tidak lain untuk mengambil ijazah hasil belajarnya selama ini dipesantren. Tapi tidak seorang pun ditemuinya ditempat itu. Tak lama kemudian datang kang hilmi, pengurus keamanan dipesantren. Abdillah bergegas menemuinya. “Kang hilmi..,kang farid nya ada tidak kang?, tanya abdillah. “kang farid lagi keluar. ada apa abdillah?, tanya kang hilmi. “begini kang, saya dan teman-teman ingin mengambil ijazah”, jawab abdillah. kang hilmi bergegas masuk kekantor dan abdillah bersama teman-temanya ikut masuk. Dipanggil satu-satu dari mereka untuk langsung menerima ijazah. Seketika keadaan menjadi ramai dikantor. Giliran abdillah dipanggil untuk maju kedepan. Dia pun sama senangnya dengan yang lain. “Bagaimana kang ijazah saya?, tanya abdillah dengan senyum manisnya. “Abdillah coba lihat ini!. Kang hilmi menunjukkan sebuah catatan pada abdillah. “Kamu belum bisa menerima ijazah ini karena masih ada masalah yang belum kamu selesaikan abdillah”, terang kang hilmi. Dia tidak mengerti apa yang ada dalam tulisan tersebut. “Apa maksudnya tulisan ini kang?, tanya abdillah. “Kang farid yang menuliskan semua ini dan saya sebagai keamanan disini juga akan menindak kamu karena tindakanmu mengambil hand phone dari lemari beliau”, terang kang hilmi. Abdillah menjadi bingung dan cemas. Tanganya gemetar dan tatapan matanya berair-air. “Bukan saya yang melakukan semua itu kang, sumpah!”, sahut abdillah dengan nada yang bergelombang. “Ya sudah, karena kamu masih ada urusan disini, nanti malam temui kang farid dan juga saya agar masalah ini bisa terselesaikan..,kamu paham abdillah?, tanya kang hilmi. “Tapi kang”, potong abdillah. Dia teringat akan keinginanya untuk sowan dan boyong hari ini juga. “Sudah..nanti malam kamu kesini abdillah”, Jawab kang hilmi. “Sudahlah abdillah..semuanya pasti akan selesai”, ucap salah seorang teman baiknya sembari memegang pundak abdillah. Mereka keluar dari kantor dengan perasaan bahagia namun tidak untuk abdillah. Dia sangat sedih dan terpukul atas kejadian itu. Dengan pikiran yang sangat kacau dan perasaan yang sedih abdillah duduk termenung didepan lemarinya. Dia tidak tahu harus berbuat apa seandainya ijazah itu tidak bisa diambil. Emosinya semakin memanas tapi selalu ia coba meredamnya dengan banyak membaca istighfar. Terpikir dalam hasratnya untuk segera boyong dari pesantren tanpa memperdulika ijazahnya. Dengan muka agak masam abdillah mengemasi semua barang yang ada dilemarinya. Cepat-cepat dia memasukkan barang yang ada dilemarinya itu untuk dibawa pulang. Perasaanya semakin brutal dan tidak dapat lagi ia kendalikan. Tangisanya pun tak terelakkan. Seluruh pipinya dibasahi dengan air mata. Tak ada seorang pun dari temanya yang berani mendinginkan abdillah. Abdillah tiba-tiba terdiam. Tatapanya terpusat kedalam lemari. Diamatinya terus sampai beberapa menit bersilang. Abdillah terdiam seribu kata. “Astagfirullah”, ucap abdillah. Tak kuasa dia meneteskan air mata dan merundukkan kepalanya. Ternyata dia melihat sebuah tulisan didalam lemarinya itu yang dulu dia tulis saat pertama kali masuk pesantren. “Dahulu aku datang kesini untuk mencari ridho para masyayikh dan mendalami ilmu. Ya Allah..sungguh dusta diri ini. Aku mengharapkan ilmu yang bermanfaat tapi apa yang telah kuperbuat..ya Allah, Aku menginginkan akhir yang bahagia ketika pertama kalinya aku datang kesini. Ya Allah…tiadalah berguna ketaatan dan kepatuhan hamba selama ini, jika masih ada segumpal darah hamba yang menginginkan kemurkaan. Karena sepercik keburukan yang hamba lakukan tiadalah bermanfaat kecuali akan merusak semua kebaikan. Ya Allah..ampunilah hambamu ini”, gumam abdillah menangis tersedu-sedu. Tubuhnya terjatuh lemas dilantai. Tangisanya tak terelakkan.
Malam harinya pada hari itu juga abdillah menemui kang farid dan kang hilmi dikantor. “Assalammualaikum”, sapa abdillah. “Waalaikum salam”, jawab kang farid dan kang hilmi yang sudah siap menunggu kedatangan abdillah. Dia datang bersama afaf yang saat itu juga hand phone nya diambil oleh kang farid. “Coba kamu jelaskan abdillah!, Siapa sebenarnya yang berani mengambil hand phone dilemariku?. Memang itu hand phone kalian, tapi saya akan kenakan kalian hukuman dengan alasan pencurian dan pelanggaran membawa hand phone dipesantren. Kamu atau dia yang mengambil? Atau kalian berdua?”, Tanya kang farid. Afaf yang saat itu berada disebelah abdillah tanganya gemetar sambil menundukkan kepalanya. Abdillah memandanginya dengan iba. Abdillah tak tega membiarkan afaf mengatakan kejadian itu kepada kang farid dan kang hilmi. Sebentar lagi dirinya akan meninggalkan pesantren ini sedangkan afaf masih lama untuk disini, pikirnya. “ayo…afaf, ceritakan saja kepada kami, ucap kang hilmi.” Ijinkan saya saja yang menjelaskan semua kejadianya kang”, sahut abdillah. “. “sebenarnya saya yang salah dibalik semua ini kang, saya siap mempertanggung jawabkan semuanya. Apapun keputusan dari kang-kang semua untuk perbuatan saya ini akan saya terima dengan ikhlas”, terang abdillah kepada kang farid dan kang hilmi. Afaf seketika menengok kearah abdillah dengan perasaan yang bersalah. “sudahlah afaf, tenang saja. Sebentar lagi aku akan keluar dari sini sedangkan kamu masih butuh waktu lama menimba ilmu dipesantren ini”, ucap abdillah sembari merangkul afaf. “Baiklah kalau begitu, jelaslah semua masalah ini atas apa yang abdillah ungkapkan tadi. Semoga semua ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kalian. Dan kamu abdillah, silahkan jika kamu mau mengambil ijazah pesantren dan sowan pamit kepada rama yai tapi sebelumnya kamu harus menerima hukuman sesuai dengan ketentuan yang ada dipesantren, yaitu kamu harus membeli dua puluh karung semen dan satu lagi, kamu harus meminta maaf kepada saya atas apa yang pernah terjadi”, terang kang farid. Nampak senyum kebahagiaan dalam raut wajah abdillah. “ iya kang..terima kasih atas kebijaksanaannya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas semua ini. Saya berjanji kang, akan menjadi lebih baik”, tutur abdillah dengan penuh syukur. Setelah semuanya selesai abdillah beranjak pamit pulang. Dilihatnya kang-kang pengurus yang ada dikantor dan kemudian dia masuk untuk berpamitan meminta doa restu. Langkahnya didepan pintu gerbang kini menjadi cerita terakhirnya dipesantren . Nampak seorang pengantar post menunggu abdillah yang sedang berjalan keluar.” Permisi mas, apakah benar ini pesantren darul amanah?”, Tanya pak tukang post. “iya pak, benar”, jawab abdillah. Bapak silahkan masuk saja, didalam sana ada pengurus yang biasa menerima kalau ada surat yang datang, lanjut abdillah. “begini mas, saya hanya ingin menyampaikan surat kepada salah satu santri dipesantren ini”, ucap bapak tukang post. Kalau boleh saya tahu atas nama siapa ya pak”, tanya abdillah. Bapak tersebut menunjukkan suratnya kepada abdillah. Dalam surat tersebut tertuliskan keterangan salah seorang calon mahasiswa yang diterima sebagai penerima beasiswa disebuah universitas swasta diyogjakarta atas nama “Muhammad Abdillah”. Seketika tanganya gemetar. Air matanya tak terelakkan lagi. Abdillah terjatuh ketanah sembari bersujud penuh rasa syukur. Dalam tersimpuh, ia terus bertasbih.

The journey of love

Posted: Juni 16, 2012 in Pengalaman Hidup

Kisah cintaku selama ini hanya sebuah penderitaan belaka. Kenapa? Karena aku belum pernah merasakan sejatinya cinta dengan sang hawa. Kadang suka namun tak jarang aku merana karenanya. Pernah aku memberikan hati ini pada seseorang tapi aku dibuat kecewa karenanya. Mungkin dia bukan cinta sejatiku atau aku bukan cinta sejatinya atau mungkin pula kami bukan pasangan yang ditadirkan untk bersama.

Pernah aku merasakan cinta itu tapi hanya sekedip bayangan mata. Kini hanya buaian dalam lamunan yang kurasa. Apakah aku tidak pantas untuk mencinta sekarang? Atau hati masih menuai bekas pedihnya cinta karena lara? Owh…tidak!! Lagi-lagi galau hho

Yang jelas cinta itu sejatinya adalah kasih sayang dan kebahagiaan. Yang selama ini aku rasakan berarti bukanlah cinta melainkan gema-gema cinta yang tak nyata. Itu palsu!!bila seorang mendengarkan lagu pasti dia akan terbawa suasana. nah… disanalah hati kita terbawa oleh lagu yang terdengar atau bisa saja kita terbawa oleh masa lalu yang menggambarkan suasana yang ada dilagu. Sejatinya cinta itu mungkin ga’ ada didalam kisah kehidupan ini, seperti lagunya dewa “arjuna mencari cinta”. Lalu apakah cinta orang tua itu bukan cinta sejati? Tanyaku dalam hati.

Jika cinta kita hanya diarahkan pada seorang yang kita cintai sebagai pacar, mungkin aku tidak setuju dengan hal itu karena aku berpengalaman..hhe. tapi cinta itu memang membingungkan. Kalau menurutku si tergantung pada usia kita.

Ketika masih kecil, yang pertama kita cintai adalah mainan. Main sepak bola, game, atau yang lain-lain. Menginjak umur remaja cinta kita terarah pada lawan jenis..hho cinta terhadap mainan mulai berkurang karena sekarang sudah punya yang namanya handphone. Setiap hari sibuk dengan sms dan telepon yang isinya kurang lebih “ sayang…lagi ngapain? Udah maem lum? Hahaha gue dlu^^. Menginjak usia dewasa pikiranya sudah mulai matang bahkan ada yang sudah sangat matang. Saking-sakingnya matang dia sudah bisa cara proses membuat dedek kecil…wkkkkkk Alhamdulillah kalau yang ini gue enggak.

Sekarang gue udah kuliah. Kalau yang enggak normal bisa-bisa cintanya sampai bukit hingga lubang buaya sepuluh pernah dilakuin..hahay. tapi semenjak MA dan hanya berpacaran sekali gue udah tiak pernah lagi ngerasain yang namanya cinta dan bercinta..hhe. rasanya gimana? Galau abizzzzzz…hiks hiks. ditambah sekarang udah mikirin masa depan tapi setiap hari kerjanya cuma ngerjain tugas dari dosen sampai putih semua nih rambut…hmmmmmmm salah apa e ague? Pacaran cuma satu kali tapi menderita berkali-kali bahkan setiap hari terasa sepi..owhhh. tapi ga; papalah because  I am a student collage. Mahasiswa gitu..hho. ageng of change yang aku cita-citakan meskipun harus meninggalkan yang namanya cinta. Aku tetap bersyukur dengan tidak hadirnya sang hawa dikehidupanku untuk saat ini. Mungkin itulah perjalanan cintaku..hho

Sepucuk Doa

Posted: Mei 1, 2012 in Puisi

Malam..

Dengarlah suara hatiku

Hari ini aku sangat bahagia

Karena aku masih bisa mengingatnya

Hari dimana aku bisa mendoakanNya

Seseorang yang dulu pernah mewarnai hidupku

Masih terasa masa-masa  indah itu

Saat senyum manis itu untukku

Kau  disana

Tak tahu sedang apa

Disini aku merenungi

Mendoakan setulus hati

Tak hirau rasa sakit itu

Tak sepadan dengan rasa rinduku

Tak berharap pula aku

Tak jumpa denganmu

 

By: Chairil Anwar

      Special days

      2 mei 2012

 

tanpa arah

Posted: April 30, 2012 in Puisi

saat hati ini gundah..
diri tiada bisa menengadah
mencari titik temu
namun sering layu
bingung tak tahu arah
meski jalan didepan cerah
terbelokkan sepercik nafsu dalam kalbu
terkalahkan oleh dunia yang palsu
lemah..
tiang hanya sebatas tiang
pondasi hanya sebatas pondasi
iman hanya sebatas iman
tak sadar atau tak menyadari
tak ada guna iman yang tinggi
tak didasari kebenaran hakiki
By: chairil anwar